You are here
Home > Editor Picks > 11 Fakta Batistuta : Suka Sepakbola karena Mario Kempes, Hingga Cinta & Tangisan untuk Fiorentina

11 Fakta Batistuta : Suka Sepakbola karena Mario Kempes, Hingga Cinta & Tangisan untuk Fiorentina

Seorang pria berambut gondrong menyambar bola dengan tendang yang keras dan terarah, seketika luapan emosi, ambisi dan kegembiraan tumpah.. pria itu berlari ke pinggir lapangan dan menggerakkan jari jemarinya seolah-olah memegang senjata laras panjang..penonton pun bersorak riang dan meneriakkan namanya ke seluruh penjuru stadion. Gabriel… “Batistuta!”… Gabriel “Batistuta!”… Gabriel “Batistuta!”

Gabriel Omar Batistuta, pesepakbola kelahiran Santa Fe, Argentina pada 1 Februari 1969 ini memang memiliki karakter dan kharisma yang khas sebagai pesepakbola. Tampangnya yang garang dan beringas, semangat dan emosi yang meluap-luap disetiap laga, hingga tendangan kencang dan terukur yang siap menghujam jala gawang lawan adalah hal-hal yang selalu diingat tentang dirinya.

Barangkali Batistuta adalah “pahlawan” masa kecil bagi banyak anak-anak, tak hanya di negara asalnya Argentina, atau di negeri Pizza Italia tempat ia meninggikan namanya. Tapi untuk anak-anak di seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia. Tak sedikit dari kita yang punya kenangan unik tentang Batistuta. .

Berikut beberapa fakta menarik seputar Gabriel Omar Batistuta, semoga bisa membuat kita bernostalgia..

 

1. Menyukai sepakbola karena Mario Kempes

Sejak kecil Batistuta belum benar-benar menyukai sepakbola, ia jelas memilih basket sebagai olahraga hobby yang sering dimainkan bersama teman-teman sebayanya.
Namun semenjak kemenangan Argentina pada pergelaran Piala Dunia 1978, Batistuta berganti haluan. Ia menjadi penggemar berat sepakbola usai melihat permainan hebat Mario Kempes di ajang itu.

 

2. Pertemuan dengan Marcelo Bielsa


Diusia muda Batistuta sempat bergabung dengan klub junior lokal Platense. Bersama tim junior Platense, Batistuta sukses memenangkan kejuaraan provinsi dimana kala itu mereka berhasil mengalahkan Newell’s Old Boys di Final. Dua gol Batistuta di laga final menarik perhatian pelatih tim lawan saat itu, yaitu Marcelo Bielsa. Bielsa pun tak segan untuk memberikan tawaran kepada Batistuta untuk bergabung dan menandatangani kontrak profesional bersama Newell’s Old Boys.

Baca Juga:  7 Fakta Francesco Toldo : Karier Gagal di AC Milan, terpuruk di serie C2 dan menolak jadi pengganti Buffon

 

3. Awal karier Batistuta di Newell’s Old Boys


Batistuta adalah pemain jebolan akademi junior Newell’s Old Boys. Ia tergabung dalam barisan tim muda Newell’s Old Boys pada musim 1987-88. Setahun kemudian, Batistuta berhasil melakukan debutnya di tim senior Newell’s, dimana pada musim itu ia mencatatkan 16 penampilan dan mencetak 4 gol. Sebuah catatan yang cukup mengagumkan bagi anak muda yang baru menjalani musim pertamanya bersama tim utama.

 

4. Karier singkat di River Plate


Berselang satu tahun usai menjalani musim perdana bersama Newell’s, Batistuta memilih hengkang ke tim papan atas Argentina lainnya yaitu River Plate. Karier Batistuta di River Plate tergolong singkat, ia hanya menjalani satu musim bersama River Plate dengan total menjalani 19 pertandingan dan mencetak 3 gol. Ia dilatih oleh Daniel Pasarella ketika berseragam River Plate.

 

5. Kepindahan ke Boca Juniors


Pada tahun 1990 Batistuta hengkang ke Boca Juniors yang merupakan musuh abadi River Plate. Batistuta barangkali adalah satu dari sedikit pemain yang pernah membela 2 tim terbaik Argentina River Plate dan Boca Juniors. Ketika itu di Boca, ia dilatih oleh Oscar Tabarez, orang yang kelak akan menjadi pelatih timnas Uruguay. Sebelum kedatangan Tabarez, Batistuta terlihat kesulitan dalam beradaptasi di Boca, ini dikarenakan Batistuta tak bermain di posisi yang ia sukai. Hingga akhirnya Oscar Tabarez datang ke klub dan menempatkan Batistuta di posisi favoritnya, sebagai penyerang tengah. Batistuta akhirnya tampil gemilang dan berhasil membawa Boca Juniors sebagai kampiun Liga Utama Argentina.

 

6. Petualangan baru di Italia


Penampilan gemilang Batistuta bersama Argentina pada pergelaran Copa America 1991 membuat Fiorentina terpincut dengan Batistuta. Tanpa pikir panjang, manajemen Fiorentina langsung menawarkan kontrak untuknya. Pada musim debutnya di Serie-A Batistuta sukses mencetak 13 gol. Namun sayangnya di musim kedua di Serie-A, Batistuta harus menelan pil pahit setelah Fiorentina harus terdegradasi ke Serie-B. Bersama Fiorentina di Serie-B Batistuta berhasil mencetak 16 gol dan membawa La Viola menjadi jawara untuk kembali promosi ke Serie-A. Pada musim 1994-95 Batistuta berhasil mendapatkan gelar top skor Serie-A dengan catatan 26 gol. Sepanjang kariernya di Fiorentina, Batistuta berhasil mempersembahkan gelar Coppa Italia dan Supercoppa Italia untuk Fiorentina.

Baca Juga:  9 Fakta Pablo Aimar : Rayuan Daniel Pasarella Hingga Karier di Malaysia

 

7. Patung perunggu di Florence dan penghargaan Hall of Fame Fiorentina

Para fans Fiorentina membangun sebuah patung perunggu Batistuta di Florence. Patung ini dibangun sebagai penghormatan para fans kepada Batistuta yang dianggap sebagai salah satu pemain terbaik Fiorentina. La Viola pun memasukkan nama Batistuta dalam Hall of Fame 2014.

 

8. Meraih Scudetto bersama AS Roma


Bagaimana pun impian setiap pesepakbola adalah untuk menjadi juara liga. Begitupula Batistuta. Meski telah berhasil meraih gelar Coppa dan Supercoppa Italia bersama Fiorentina, namun itu tidaklah cukup untuk memenuhi ambisi juara dalam dirinya. Batistuta pun akhirnya memutuskan untuk hijrah ke tim yang memiliki probabilitas lebih besar untuk menjadi juara Serie-A, dan pilihannya jatuh pada AS Roma. Ia hengkang ke Roma dengan nilai transfer yang fantastis saat itu, 70 juta Lira atau setara dengan € 36.2 Juta Euro. Dan benar saja di musim 2000-2001 dirinya sukses meraih gelar Scudetto bersama AS Roma dengan mencetak 20 gol. Salah satu golnya adalah ketika ia turut mencetak gol pada kemenangan 3-1 Roma atas Parma pada pertandingan penentuan gelar juara, dimana dua gol lainnya dicetak oleh Francesco Totti dan Vincenzo Montella.

 

9. Gol dan kesedihan saat melawan Fiorentina


Pada 26 November 2000, Batistuta mencetak sebuah gol yang brilian dengan tendangan voli keras dari jarak 30 yard menghujam deras ke gawang mantan klubnya Fiorentina. Gol itu menjadi gol kemenangan bagi Roma. Namun alih-alih bergembira dengan gol yang dilesatkannya, ia malah menolak merayakan gol bersama rekan satu timnya dan meneteskan air mata. Sean Ingle, reporter pertandingan dari Guardian bahkan memberikan komentar, “Batistuta telah melukai hati Fiorentina, dan melukai hatinya sendiri”.

Baca Juga:  8 Fakta Cristian Chivu : Anak Seorang Legenda & Bek dengan Keahlian Freekick Mumpuni

 

10. Masa peminjaman di Inter dan kepindahan ke Qatar


Usianya tak lagi muda saat itu, 34 tahun. Batistuta harus menerima kenyataan bahwa fisiknya tak lagi sama ketika prima. Kecepatan yang semakin melambat dan stamina yang mulai menurun membuat ia akhirnya kehilangan posisi utama di AS Roma. Roma pun memutuskan untuk meminjamkan Batistuta ke Internazionale Milan. Bersama Inter, Batistuta berhasil mencetak 2 gol dari 12 laga. Inter menjadi klub Italia terakhir yang ia bela. Pada akhir tahun 2003, Batistuta memutuskan untuk hijrah ke Qatar dan bergabung bersama Al-Arabi. Di Qatar, ia sukses menjadi top skor dengan mencetak 25 gol bersama Al-Arabi. Batistuta akhirnya memutuskan untuk pensiun dari dunia sepakbola pada tahun 2005.

 

11. Catatan impresif bersama tim nasional


Bersama tim nasional Argentina, Batistuta berhasil melakoni total 77 laga dan mencetak 55 gol. Dengan rasio gol 0,71 per pertandingan, membuat Batistuta menjadi salah satu striker terbaik yang pernah dilahirkan Argentina hingga saat ini. Ia juga berhasil mempersembahkan dua gelar Copa America pada tahun 1991 dan 1993 untuk Argentina, dan gelar juara FIFA Confederation Cup tahun 1992.

Admin
Pengamat amatir, tifosi layar kaca.
https://profilbola.com

Tinggalkan Balasan

Top